Cara Maksimalkan GMV Max TikTok: Strategi dari Cold Start sampai Scaling

\"Everpro\"
Share
TikTok

Banyak seller TikTok Shop mulai menggunakan GMV Max karena fitur ini mengotomatiskan iklan di berbagai placement dalam satu campaign. Namun, hasilnya tidak langsung terlihat karena campaign baru masih berada di tahap cold start dan sistem butuh waktu untuk mengenali audiens yang tepat.

Biar kamu tidak makin bingung, yuk simak cara memaksimalkan GMV Max dari tahap cold start sampai scaling berikut ini!

Apa itu GMV Max dan Dua Tipenya?

GMV Max adalah fitur otomasi iklan TikTok Shop yang menggabungkan traffic berbayar, organik, dan afiliasi dalam satu campaign. Sistem mengatur penempatan iklan dan pemilihan aset secara otomatis untuk mengejar nilai penjualan setinggi mungkin.

GMV Max tersedia dalam dua tipe, yaitu:

  • Product GMV Max: Berfokus pada penjualan produk dari katalog dengan memilih aset yang dinilai paling sesuai secara otomatis. 
  • LIVE GMV Max: Berfokus pada optimasi traffic selama siaran langsung berlangsung.

Strategi Cold Start: Budget yang Tepat di Awal

Cold start adalah fase sistem belum memiliki cukup data konversi untuk menentukan audiens yang berpotensi melakukan pembelian. Fase ini dapat terjadi saat campaign baru dibuat atau ketika produk dan livestream baru ditambahkan ke GMV Max.

Pada tahap ini, sistem masih mengumpulkan data untuk memahami pola audiens dan konversi. Karena itu, pengaturan dan aktivitas pada fase cold start dapat memengaruhi kecepatan sistem memperoleh data yang dibutuhkan untuk melakukan optimasi.

1. Gunakan Max Delivery Selama 3-5 Hari Pertama

Pada fase awal, opsi penayangan maksimum (Max Delivery) memberi sistem ruang untuk menjangkau lebih banyak audiens dan mengumpulkan data. 

Sementara itu, mode ROI Target cenderung membatasi pembelanjaan saat target belum tercapai sehingga volume data yang terkumpul bisa lebih sedikit.

2. Hitung Budget Harian dengan Formula 10x Aov

Budget harian pada fase cold start dapat mengacu pada 10 kali AOV (Average Order Value), yaitu nilai rata-rata pesanan. Misalnya, kalau AOV toko Rp150.000, perhitungannya menjadi 10 × Rp150.000 atau Rp1.500.000 per hari.

Angka tersebut dapat dijadikan batas acuan agar sistem memiliki cukup ruang untuk mengumpulkan data konversi. Jika budget ditetapkan jauh di bawah acuan tersebut, proses pengumpulan data akan berjalan lambat dan hasil optimasi sulit dievaluasi.

3. Pantau Tiga Metrik Utama

Selama periode uji, pantau tiga metrik utama, yaitu pengeluaran iklan, GMV, dan ROI. Hindari menarik kesimpulan hanya dari performa satu hari karena hasil pada fase awal masih dapat berubah.

4. Jika ROI belum sesuai harapan

Urutan penanganan harus diperhatikan saat performa campaign belum sesuai harapan. Tambahkan variasi produk atau materi iklan terlebih dahulu agar sistem memiliki cukup aset untuk diuji dan dibandingkan.

Setelah variasi aset tersedia, evaluasi kembali performanya sebelum menurunkan budget atau beralih ke mode ROI Target.

Dua Mode Optimasi: Kapan Pakai ROI Target dan Max Delivery

Max Delivery dan ROI Target memiliki fokus optimasi yang berbeda. Pemilihan mode sebaiknya disesuaikan dengan tujuan campaign dan kondisi data yang tersedia.

  1. Max Delivery menggunakan anggaran untuk memaksimalkan peluang mendapatkan GMV dan penayangan. Mode ini dapat digunakan saat campaign membutuhkan volume penjualan dan data lebih banyak, termasuk pada fase cold start. Karena sistem berfokus pada volume, ROI dapat mengalami fluktuasi dari hari ke hari.
  2. ROI Target mengarahkan sistem untuk membelanjakan anggaran dengan mempertimbangkan target ROI yang ditetapkan. Mode ini dapat digunakan ketika campaign sudah memiliki data yang cukup dan ingin menjaga efisiensi berdasarkan target tersebut.

Simak perbedaan lengkapnya di tabel berikut ini:

Aspek Max Delivery ROI Target
Tujuan utama GMV dan penayangan maksimal ROI stabil sesuai target
Pemakaian anggaran Seluruh anggaran dipakai Dipakai jika target ROI terpenuhi
Pola hasil ROI bisa naik-turun Lebih terprediksi
Waktu yang cocok Cold start, dorongan penjualan cepat Pertumbuhan jangka panjang

Setelah 5-7 hari pertama dengan Max Delivery, evaluasi hasilnya. Jika ROI sesuai harapan, lanjutkan dan naikkan budget secara bertahap. Jika kamu menginginkan hasil yang stabil, pindah ke ROI Target kapan saja.

Cara Scaling Budget Tanpa Bikin ROI Ambruk

Begitu performa awal terlihat bagus, jangan langsung menggandakan budget. Perubahan budget yang terlalu besar menyebabkan sistem perlu menyesuaikan kembali. Kondisi ini dapat memengaruhi ROI.

Sebaiknya naikkan budget secara bertahap, misalnya sekitar 30% per hari. Jika budget hari ini Rp2.000.000, budget hari berikutnya menjadi sekitar Rp2.600.000. 

Pada hari berikutnya, budget dapat dinaikkan lagi menjadi sekitar Rp3.380.000. Selama proses tersebut, pantau ROI dan GMV untuk melihat performanya.

Kemudian untuk campaign musiman seperti Mega Sale atau Super Brand Day, acuan budget dapat berbeda. Pada mode Max Delivery, budget dapat ditetapkan sekitar 1–5 kali pengeluaran aktual pada mode ROI Target di level SPU. 

Misalnya, pengeluaran harian pada mode ROI Target mencapai Rp3.000.000, budget Max Delivery selama periode promo dapat berada di kisaran Rp3.000.000–Rp15.000.000.

Hindari menetapkan budget lebih dari 5 kali pengeluaran aktual. Lonjakan budget yang terlalu besar dapat membuat efisiensi menurun dan ROI turun, sedangkan kenaikan GMV belum tentu sebanding dengan tambahan anggaran.

Batasan Penting yang Sering Bikin GMV Max “Gagal Maksimal”

Ada tiga batasan yang perlu dipahami sebelum mengubah apa pun di akun iklan, yaitu:

Batasan Dampak Yang perlu dilakukan
Satu akun iklan utama per TikTok Shop Mengganti akun iklan utama di Seller Center memindahkan akses GMV Max, dan kampanye aktif di akun lama langsung dijeda. Pastikan akun utama sudah benar sebelum menjalankan campaign.
Iklan lain dengan produk sama ikut dijeda Saat Product GMV Max aktif, Video Shopping Ads dan Product Shopping Ads untuk produk yang sama berhenti dan tidak menyala otomatis setelah GMV Max berakhir. Nyalakan ulang iklan tersebut secara manual.
LIVE GMV Max bergantung pada koneksi Business Center Jika koneksi akun TikTok resmi toko ke Business Center terputus, campaign bisa berhenti walaupun statusnya terlihat berjalan. Cek koneksi secara rutin, terutama sebelum jadwal live.

Ada skenario yang sebaiknya diperhatikan saat seller beralih ke Product GMV Max.

Misalnya, seller sebelumnya menjalankan Product Shopping Ads untuk produk andalan dengan performa stabil, lalu mengaktifkan Product GMV Max untuk produk yang sama. Dalam kondisi tersebut, iklan lama dapat otomatis dijeda.

Saat campaign GMV Max selesai, iklan lama tidak otomatis aktif kembali. Jika seller tidak memeriksa statusnya, penjualan produk andalan dapat ikut menurun. Hal ini bisa membuat performa campaign dinilai keliru, padahal penyebabnya adalah iklan sebelumnya masih dalam status jeda.

Kesalahan Umum yang Bikin GMV Max Kurang Maksimal

Adapun beberapa kesalahan yang dapat menghambat proses optimasi GMV Max di antaranya:

1. Budget Cold Start Terlalu Kecil

Budget di bawah acuan 10 kali AOV dapat membuat sistem memiliki lebih sedikit ruang untuk mengumpulkan data konversi. Ini mengakibatkan proses belajar berjalan lebih lambat dan performa campaign sulit dievaluasi.

2. Menaikkan Budget Besar-besaran Sekaligus

Saat performa awal terlihat bagus, seller mungkin tergoda menaikkan budget dalam jumlah besar. Namun, perubahan mendadak ini menyebabkan sistem harus menyesuaikan kembali, serta berisiko memengaruhi ROI.

Sebaiknya naikkan budget bertahap, misalnya sekitar 30% per hari. Setelah setiap kenaikan, pantau GMV dan ROI sebelum melakukan penyesuaian berikutnya.

3. Hanya Mengandalkan Satu atau Dua Materi Ikla

Sistem membutuhkan aset yang cukup untuk diuji dan dioptimalkan. Jika variasi materi iklan terlalu sedikit, pilihan aset untuk proses optimasi juga terbatas. Performa campaign pun lebih sulit berkembang.

Tambahkan beberapa variasi materi iklan agar sistem memiliki lebih banyak aset untuk dibandingkan berdasarkan respon audiens.

4. Tidak Menyadari Perubahan Akun Iklan Utama

Perubahan akun iklan utama di Seller Center dapat memengaruhi campaign yang sedang berjalan. Dalam kondisi tertentu, campaign bisa dijeda setelah akun utama diganti.

Seller yang tidak menyadari perubahan ini akan mengira campaign berhenti karena performanya bermasalah. Karena itu, periksa kembali akun iklan utama dan status campaign setelah melakukan perubahan pengaturan.

5. Memilih Mode yang Tidak Sesuai dengan Tujuan

Max Delivery dan ROI Target memiliki fokus yang berbeda. Max Delivery berorientasi pada peningkatan volume dan pengumpulan data, sedangkan ROI Target mempertimbangkan target ROI dalam proses pembelanjaan anggaran.

Jika mode dipilih tanpa menyesuaikannya dengan tujuan campaign, hasil yang diperoleh berisiko tidak sesuai ekspektasi. Sebaiknya tentukan lebih dulu campaign membutuhkan volume penjualan dan data lebih banyak atau ingin menjaga efisiensi berdasarkan target ROI.

Kelola GMV Max dengan Akun TikTok Ads Whitelist Everpro

Dua masalah yang dibahas sebelumnya, yaitu keterbatasan akses pada akun iklan dan campaign yang dapat berhenti tanpa disadari, bisa diminimalkan dengan monitoring rutin.

Salah satu opsi yang dapat digunakan adalah akun TikTok Ads whitelist dari Everpro Ads. Layanan ini menyediakan akses ke fitur GMV Max dan pemantauan melalui dashboard. 

Selain itu, ada fitur Iklan Bermasalah untuk memantau campaign yang mengalami kendala sehingga status campaign yang terhenti bisa cepat diketahui.

Bagi advertiser yang menjalankan campaign dengan budget besar, seperti strategi Mega Sale, ada juga jalur komunikasi langsung untuk membahas campaign maupun kendala terkait kebijakan iklan.

FAQ

Berapa budget minimal untuk mulai GMV Max?

Patokannya adalah 10 kali AOV per hari selama fase cold start. Jika AOV toko Rp200.000, budget harian minimalnya Rp2.000.000. Angka ini diperlukan supaya sistem punya cukup data konversi.

Apa beda mode ROI Target dan Max Delivery?

Max Delivery memakai seluruh anggaran untuk mengejar GMV dan penayangan dengan ROI yang bisa berfluktuasi. ROI Target hanya membelanjakan anggaran saat target ROI terpenuhi sehingga hasilnya lebih terprediksi.

Kenapa iklan lain berhenti setelah GMV Max diaktifkan?

Saat Product GMV Max aktif untuk suatu produk, iklan lain yang memakai produk sama, seperti Video Shopping Ads dan Product Shopping Ads, otomatis dijeda. Iklan tersebut tidak menyala sendiri setelah kampanye GMV Max berakhir sehingga harus diaktifkan manual.

Apakah GMV Max bisa dipakai di lebih dari satu akun iklan sekaligus?

Tidak. Akses GMV Max hanya berlaku untuk satu akun iklan utama per TikTok Shop. Mengganti akun iklan utama memindahkan akses tersebut dan menjeda kampanye di akun sebelumnya.

 

Artikel Lainnya
\"Everpro\"
Solusi

\"Everpro\"

Solusi pengiriman

Cashback besar, layanan lengkap

Dijamin 1×24 jam setelah delivered

Didukung teknologi dan support sigap

Bebas manual tanpa biaya per hit

\"Everpro\"

Solusi tools marketing

Scale tanpa limit dan bebas restrict

WABA resmi simple dan affordable

Loading cepat, tracking makin akurat

Kelola data pelanggan dengan CRM

\"Everpro\"

Solusi jasa dan konsultasi

Dongkrak penjualan dengan praktek tersertifikasi

Urus Shop, konten FYP, Live, sampai GMV Max

Belajar tingkatin order dari para mentor Everpro

Miliki LP yang didesain khusus untuk konversi

Bahan Gratis

\"Everpro\"

Ilmu

Pelajari cara, tips, dan trik pakai Everpro

Dapatkan berbagai inspirasi buat bisnismu

Kendalikan spam leads dari iklan lewat rekomendasi teruji
\"Everpro\"

Tools

Cari tahu ongkir dan cashback di Everpro

Dapatkan proses terkini dari nomor resimu

Temukan kode pos akurat untuk alamat tujuanmu