TikTok Shop jadi salah satu channel jualan paling besar bagi seller online dalam beberapa tahun terakhir. Namun, sejak admin TikTok Shop naik, banyak seller mulai menghitung ulang margin bisnis mereka dan menyadari keuntungan yang didapat jadi makin tergerus oleh berbagai potongan platform.
Merangkum beberapa sumber terbaru, jika biaya admin TikTok Shop digabung dengan biaya transaksi, komisi platform, layanan, hingga affiliate, maka total potongan yang ditanggung seller bisa mencapai sekitar 8% hingga 30% dari harga jual produk.
Kondisi inilah yang membuat banyak seller mulai pertimbangkan channel penjualan tambahan di luar marketplace. Kalau kamu juga merasakan tantangan yang sama, mungkin ini saatnya mulai membangun channel jualan mandiri.
Artikel ini akan memberikan panduan lengkap untuk memanfaatkan channel jualan sendiri agar bisnis bisa tetap scale–up, lebih fleksibel, dan tidak sepenuhnya bergantung pada marketplace.
Kenapa Kenaikan Admin TikTok Shop Jadi Perhatian Seller?

Biaya admin marketplace yang makin tinggi, termasuk yang terjadi pada TikTok Shop, sangat mempengaruhi besarnya keuntungan bersih yang didapat seller per setiap transaksi. Saat biaya admin naik, maka total potongan biaya operasionalnya setelah ditambah biaya logistik, komisi, hingga pajak, juga ikut bertambah.
Jadi, meski jumlah order yang masuk banyak, kondisi ini tetap jadi tantangan bagi seller jika total laba bersih yang didapat justru makin tipis akibat tingginya potongan biaya platform.
Sementara jika harga per produknya dinaikkan untuk menyeimbangkan semuanya, seller bisa kalah saing dengan kompetitor, mengingat persaingan harga di TikTok Shop yang makin ketat.
Akhirnya, seller dituntut untuk harus lebih efisien lagi dalam mengelola operasional bisnis agar margin keuntungan tetap terjaga meski total biaya platform TikTok Shop terus meningkat.
TikTok Shop Tetap Penting, Tapi Jangan Jadi Satu-Satunya Channel
Naiknya biaya admin TikTok Shop mungkin jadi pertimbangan seller untuk sepenuhnya migrasi ke website sendiri. Tapi, melihat tingginya traffic, kemampuan discovery, dan fitur live shopping nya yang sangat powerful, marketplace ini tetap penting untuk pertumbuhan bisnis.
Dengan TikTok Shop, seller bisa menarik perhatian audiens, mendorong closing secara cepat, menjangkau pasar yang lebih luas, hingga mengakuisisi customer baru. Namun, untuk mitigasi risiko bisnis, seller tetap perlu punya channel tambahan.
Inilah strategi yang dilakukan seller modern. Sembari tetap jualan di marketplace, mereka juga membangun customer sendiri lewat channel mandiri yang fleksibel dan punya kontrol penuh. Untuk mempelajari lebih lanjut, seller bisa baca panduan lengkap migrasi toko online.
Kenapa Banyak Seller Kini Mulai Bangun Channel Sendiri?
Banyak seller kini mulai membangun channel sendiri karena mereka beberapa, yaitu:
1. Ingin Punya Database Customer
Di marketplace seperti TikTok Shop, seller sangat dibatasi untuk mengakses data pembeli karena kebijakan privasi. Padahal, data ini bisa dimanfaatkan untuk pemetaan target pasar, evaluasi dan mengembangkan produk, hingga meningkatkan loyalitas pelanggan.
Sementara di channel sendiri, seller bisa punya kendali penuh atas data pembeli karena tidak terikat dengan platform. Bahkan, seller juga bisa membuat segmentasi customer berdasarkan riwayat pembelian, minat produk, atau perilaku belanja mereka.
2. Ingin Meningkatkan Repeat Order
Ketika seller punya akses ke data pelanggan tanpa disensor, maka akan lebih mudah melakukan follow–up untuk tingkatkan repeat order. Seller bisa chat pembeli yang udah beberapa kali transaksi, follow–up yang baru sekali beli, kirim promo sesuai minat pelanggan, hingga membangun hubungan customer yang lebih personal untuk tingkatkan loyalitas.
3. Ingin Punya Kontrol Lebih Besar Terhadap Margin
Di channel jualan sendiri, biaya operasional yang dikeluarkan juga cenderung lebih sedikit dibanding marketplace. Tidak ada biaya komisi platform, biaya admin, dan berbagai potongan tambahan lainnya yang bisa menggerus margin keuntungan.
Seller jadi punya kontrol lebih besar terhadap margin keuntungan. Selain itu, ketika laba bersih yang didapat lebih optimal, seller juga bisa menentukan harga jual yang lebih kompetitif untuk menghadapi persaingan di pasar digital.
4. Ingin Membangun Brand yang Lebih Kuat
Ketika seller punya kendali atas data pelanggan 100%, margin yang lebih terkontrol, bebas dari perang harga dan kompetitor, dan bisa kasih pengalaman belanja yang lebih personal, maka brand juga akan lebih mudah berkembang dan punya customer yang lebih loyal.
Marketplace seperti TikTok Shop memang platform yang hebat untuk mencari transaksi awal dan volume penjualan, tapi channel mandiri merupakan pondasi utama untuk aset bisnis jangka panjang.
Beberapa kelebihan punya channel sendiri dibanding marketplace ini bukan isyarat agar seller meninggalkan TikTok Shop sepenuhnya, tetapi agar mulai mengarahkan customer ke WhatsApp atau landing page sendiri agar tidak bergantung pada platform marketplace.
Channel Penjualan yang Banyak Digunakan Seller Selain Marketplace
Ada beberapa channel penjualan yang banyak dipakai oleh seller Indonesia selain marketplace, yaitu WhatsApp, landing page, dan social commerce seperti TikTok dan Instagram.
1. WhatsApp untuk Closing dan Follow-Up
WhatsApp Business biasanya akan jadi platform manajemen komunikasi utama untuk bisnis yang jualan mandiri. Selain karena aplikasinya lebih familiar oleh buyer maupun seller Indonesia, fitur-fitur di WhatsApp Business juga lengkap untuk jualan.
Di WhatsApp, proses closing juga terasa lebih personal karena pembeli bisa chat langsung admin toko soal kebutuhan mereka. Seller yang punya akses penuh atas data pembeli pun juga lebih mudah menjalankan strategi follow–up, mulai dari menginfokan pengiriman, konfirmasi COD, menangani komplain, hingga kirim promo untuk mendorong repeat order.
Namun, jualan di WhatsApp juga perlu didukung sistem kelola chat yang rapi supaya CS maupun seller tidak kewalahan saat chat yang masuk mulai membludak. Di sinilah Everpro Chat bisa bantu seller kelola leads dan customer WA yang lebih terorganisir.
Mulai dari akses 1 nomor WA ke banyak CS, monitoring performa agent CS, hingga follow-up pembeli, semua aktivitas ini terintegrasi di dalam satu dashboard.
2. Landing Page atau Website Sederhana
Setelah membangun WhatsApp Business yang terorganisir, mulailah membangun landing page atau website bisnis. Tidak harus langsung webstore besar, cukup halaman produk sederhana yang mudah diakses, informatif, menarik, dan menjawab kebutuhan pengunjung.
Ketika seller juga punya landing page atau website, calon pembeli akan lebih percaya dengan profesionalitas brand, sehingga peluang konversi juga lebih mudah untuk dicapai.
Channel ini mungkin masih terdengar cukup asing bagi seller pemula, namun tidak perlu khawatir karena ada platform seperti Everpro Web Builder yang bisa bantu seller membangun landing page dari nol dengan fitur yang lengkap dan mudah dipakai.
3. Social Commerce dari TikTok dan Instagram
Kekuatan konten dalam meng-influence audiens agar tertarik beli suatu produk juga harus dimanfaatkan saat jualan di channel mandiri. Di Indonesia, TikTok dan Instagram termasuk dua social commerce yang paling ramai dipakai.
Seller bisa membangun akun bisnis di dua channel ini. Kemudian dengan konsisten membuat short video soal brand dan produk serta live selling yang terjadwal.
Dari konten inilah biasanya traffic dan calon customer mulai berdatangan. Setelah itu, seller bisa arahkan customer ke WhatsApp agar proses konsultasi hingga closing lebih personal.
Tantangan Seller Saat Mulai Jualan Mandiri
Meski channel mandiri jadi solusi saat admin TikTok Shop naik, tidak bisa dipungkiri akan ada tantangan lain yang akan dihadapi oleh seller. TikTok Shop maupun marketplace lain biasanya udah punya traffic dan sistem manajemen operasional dari platform.
Sementara saat jualan mandiri, seller harus membangun traffic sendiri dari nol, dan jika belum punya sistem manajemen operasional yang tepat, maka semua urusannya jadi harus manual. Mulai dari follow–up customer, pengiriman yang kompleks, hingga CS yang jadi lebih sibuk.
Sistem Operasional Jadi Kunci Kemudahan Jualan Mandiri
Terlepas dari tantangan yang akan dihadapi seller saat jualan mandiri, ada satu hal penting yang bisa jadi kunci bisnis berjalan optimal, yaitu sistem operasional yang tepat dan terkendali. Karena itu, seller perlu lebih concern terhadap beberapa aspek penting seperti
-
Pengelolaan Chat Customer
Setiap chat yang masuk ke channel mandiri perlu dikelola dengan sistem otomatis. Mulai dari membagi chat masuk ke admin tertentu, pakai quick reply untuk pertanyaan umum, hingga mengaktifkan chatbot saat toko sedang offline agar pelayanan tetap fast–response.
-
Manajemen Order Multi-Channel
Agar leads dan order yang masuk dari berbagai channel, seperti TikTok, Instagram, website, landing page, hingga WhatsApp tidak tercecer, lebih rapi, dan terorganisir, maka perlu manajemen order multi–channel yang memungkinkan semuanya masuk ke satu tempat.
-
Sistem COD
Tanpa marketplace, seller tetap bisa menyediakan metode pembayaran COD. Namun, seller perlu memastikan sistem COD yang dipakai punya kebijakan pencairan yang cepat, sistem klaim yang jelas, jangkauan pengirimannya luas, dan manajemen ordernya rapi.
-
Pengiriman yang Fleksibel
Operasional pengiriman juga harus jelas dan fleksibel. Mulai dari tersedianya berbagai pilihan kurir ekspedisi, kemudahan cek ongkir, layanan pengiriman yang beragam dari reguler hingga same–day, sampai pendataan status pengiriman yang rapi dan terintegrasi.
-
Tracking Order yang Real-Time
Karena tidak punya sistem tracking sendiri seperti marketplace, maka seller mandiri juga perlu memastikan tracking order tetap update, mudah diakses, dan real–time. Dengan begitu, seller maupun customer bisa pantau status pengiriman dengan lebih jelas, sekaligus meminimalkan pertanyaan berulang terkait posisi paket.
Ketika seller punya seluruh sistem operasional di atas, maka meskipun orderan terus bertambah, baik seller maupun tim CS, packing, dan lainnya tidak akan kewalahan.
Nah, untuk mewujudkan kemudahan ini, seller bisa mengandalkan Everpro Chat untuk kelola komunikasi pelanggan, termasuk untuk manajemen multi–order yang mengarah ke WhatsApp.
Sementara Everpro Shipping bisa dimanfaatkan untuk membantu seller kelola seluruh urusan pengiriman dan fulfillment order dalam satu sistem yang lebih terpusat.
Kenapa Repeat Order Kini Jadi Fokus Seller?
Saat ini, repeat order menjadi fokus seller, terutama yang jualan mandiri, karena peluangnya lebih besar dibanding hanya terus-terusan mencari customer baru.
Pertama, customer yang ada saat ini merupakan aset bisnis jangka panjang. Ketika strategi follow–up dilakukan dengan maksimal, pelayanan chat memuaskan, dan produk sesuai ekspektasi pembeli, maka akan mudah untuk mengajak mereka menjadi loyal customer.
Kedua, repeat order juga jauh lebih profitable dibanding terus-terusan spending biaya iklan untuk akuisisi customer baru. Apalagi, biaya iklan digital saat ini makin mahal seiring tingginya kompetisi di berbagai platform online.
Dari dua alasan ini, cukup terlihat kenapa banyak seller mulai fokus membangun hubungan dengan customer. Selain fokusnya mencapai repeat order yang tinggi, customer yang kembali membeli bisa bantu bisnis tumbuh lebih stabil.
Saatnya Seller Punya Channel Penjualan Sendiri
Kenaikan admin TikTok Shop ini jadi momentum evaluasi bagi seller. Apakah mengandalkan marketplace sebagai satu-satunya sumber penjualan adalah keputusan yang bijak?
Marketplace tetap penting, tapi jika bisnis cuma bergantung pada platform yang punya aturan dan kebijakannya sendiri, maka akan sulit bagi bisnis untuk survive di pasar digital. Karena itu, punya channel jualan tambahan jadi langkah yang makin relevan bagi seller saat ini.
Sebab, untuk bisnis jangka panjang, aset paling berharga bukan berapa lama seller bertahan di marketplace, tapi seberapa besar owned customer dan repeat order yang berhasil dibangun.
Jika kamu juga mulai pertimbangkan strategi yang sama, maka di tahap awal membangun channel jualan sendiri, biasanya seller akan butuh sistem customer dan operasional yang lebih terintegrasi. Tujuannya agar proses closing, follow–up customer, COD, hingga pengiriman tetap berjalan rapi meski order mulai bertambah dari berbagai channel.
Karena itu, banyak bisnis mulai pakai kombinasi Everpro Chat dan Everpro Shipping untuk bantu kelola operasional penjualan di luar marketplace dengan lebih praktis dan terorganisir.
Kamu bisa konsultasi gratis dengan tim Everpro terkait layanan ini, atau langsung berlangganan sesuai kebutuhan bisnismu!







