Table of Contents

Table of Contents

Mau Jualan Mandiri? Ini 5 Cara Dapat Pembeli Tanpa Listing di Marketplace!

\"Everpro\"
Share
Cara Dapat Pembeli Tanpa Marketplace
RINGKASAN
  • Pembeli tidak hanya berasal dari marketplace. Seller tetap bisa mendapatkan order melalui TikTok, Instagram, WhatsApp Business, website, iklan berbayar, dan pelanggan lama.
  • Banyak seller mulai membangun channel sendiri karena biaya marketplace naik, persaingan harga semakin ketat, biaya iklan mahal, dan sulit membangun repeat order.
  • Strategi utama mendapatkan pembeli adalah membuat konten organik, menggunakan landing page atau website, menjalankan iklan, dan mengarahkan calon pembeli ke WhatsApp.
  • Database pelanggan lama menjadi aset penting karena lebih mudah menghasilkan repeat order dibanding terus mencari pembeli baru.
  • Kesuksesan jualan mandiri tidak hanya bergantung pada traffic, tetapi juga pada sistem operasional yang rapi, mulai dari pengelolaan chat, follow-up pelanggan, hingga proses pengiriman.

Di tengah tren banyak seller yang mulai tertarik jualan mandiri, masih ada satu pertanyaan yang sering muncul, “kalau nggak jualan di marketplace, pembelinya datang dari mana?”. Keraguan ini biasanya muncul karena belum banyak yang paham cara dapat pembeli tanpa marketplace secara konsisten dan efektif. 

Seller masih terbiasa dengan sistem marketplace yang udah punya traffic besar. Ketika mulai migrasi ke toko online sendiri, seller jadi harus belajar membangun customer sendiri dari awal.

Padahal, tidak semua buyer di Indonesia cuma belanja lewat marketplace aja. Meski jualan di luar marketplace, seller tetap bisa dapat order dari berbagai channel, mulai dari media sosial, WhatsApp Business, komunitas, hingga repeat order dari pelanggan lama.

Apakah Bisa Dapat Pembeli Tanpa Marketplace?

Cara Dapat Pembeli Tanpa Marketplace
Sumber: freepik.com

Ya, kamu tetap bisa dapat pembeli tanpa marketplace. Tapi mindset-nya berbeda. Kamu tidak menyamakan cara berpikir serta strategi jualan di channel mandiri dan di marketplace

Saat jualan di marketplace, seller sebenarnya sedang meminjam traffic bawaan dari platform. Artinya, orang-orang memang datang ke marketplace tersebut untuk belanja. Seller tinggal bersaing dengan toko lainnya lewat harga, promo, optimasi produk, ataupun iklan. 

Sementara di channel mandiri, seller perlu membangun audiens sendiri dari awal lewat berbagai strategi pemasaran yang lebih aktif, seperti konten organik, iklan, WhatsApp, komunitas, hingga media sosial. 

Meski prosesnya cenderung bertahap dan tidak instan, namun hasil yang didapat biasanya lebih stabil serta berdampak positif untuk jangka panjang.

Dari perbedaan kedua channel penjualan ini, tentu masing-masing ada kelebihan dan kekurangannya sendiri. Karena itulah, banyak seller kini mulai mengkombinasikan marketplace dan channel mandiri, sehingga bisnis online mereka bisa berjalan lebih optimal. 

Kenapa Banyak Seller Mulai Cari Channel Sendiri?

Keputusan seller untuk migrasi ke channel sendiri umumnya terjadi karena beberapa alasan, seperti biaya marketplace naik, persaingan harga semakin ketat, biaya iklan semakin mahal, kesulitan membangun repeat order, hingga seller yang tidak punya database pelanggan. 

1. Biaya Marketplace Semakin Naik 

Per 1 Januari 2026, biaya admin Shopee naik hingga 10% dan mulai diikuti oleh beberapa marketplace lainnya. Jika ditotal dengan keseluruhan biaya platform, seller bisa dibebankan sekitar 15-30%. Kenaikan ini menjadi salah satu alasan utama banyak seller mulai tidak bergantung pada marketplace sebagai satu-satunya platform untuk berjualan.

Ada penawaran khusus dari kami buat kamu!

Promo Diskon

2. Persaingan Harga Kian Ketat

Di marketplace, seller berhadapan dengan banyak kompetitor yang jual produk hampir sama atau serupa, dan masing-masing berlomba menawarkan harga terbaik untuk menarik pembeli.

Karena konsumen bisa dengan mudah membandingkan harga antar toko, persaingan pun menjadi semakin ketat hingga memicu perang harga. Seller yang ingin keluar dari kondisi ini mulai mengalihkan strategi penjualannya ke WhatsApp maupun website bisnis sendiri.

3. Iklan Platform Semakin Mahal

Di tengah persaingan pasar yang kian ketat, seller yang ingin unggul juga perlu pasang iklan. Tapi, di saat yang sama, biaya iklan di marketplace pun ikut mengalami kenaikan. Tidak jarang, biaya yang harus keluar terasa tak sebanding dengan hasil penjualan yang didapat.

4. Seller Kesulitan Membangun Repeat Order

Karena terbentur oleh karakteristik platform yang kompetitif, seller juga kesulitan mengajak pembeli agar bisa repeat order di toko mereka. Selain itu, keterbatasan fitur chat membuat seller kurang bisa leluasan membangun hubungan dengan pembeli. 

Ketika berada di kondisi ini, seller kemudian melihat peluang dari banyaknya keunggulan channel mandiri dibanding marketplace, termasuk dalam membangun repeat order.

5. Seller Tidak Memiliki Database Pelanggan

Dalam bisnis online, data pelanggan menjadi aset yang penting sekali untuk strategi pemasaran dan penjualan jangka panjang. Sayangnya, kebijakan marketplace membuat seller tidak bisa mengakses seluruh database pelanggan. 

Ketika seller mulai melihat peluang untuk membangun database pelanggan sendiri melalui channel mandiri, banyak yang akhirnya mulai fokus membangun hubungan langsung dengan customer agar komunikasi, promosi, hingga repeat order bisa dikelola lebih maksimal.

Cara Dapat Pembeli Tanpa Marketplace

Ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mendapatkan pembeli tanpa marketplace, seperti melalui konten organik, strategi WhatsApp Business, landing page, memanfaatkan database pelanggan, hingga menjalankan iklan berbayar. 

1. Gunakan Konten di TikTok dan Instagram

Social commerce seperti TikTok dan Instagram kini menjadi sumber traffic yang besar bagi seller online. Pengguna tidak lagi cuma cari hiburan, tapi juga terbiasa melihat review, mencari rekomendasi, hingga belanja langsung lewat platform ini.

Nah, kamu bisa manfaatkan peluang ini untuk mendapatkan pembeli. Mulailah dengan membuat konten organik untuk personal branding. Misalnya, short video soal edukasi produk, tutorial, tips dan trik, dan ide konten lainnya. 

Ketika traffik akunmu mulai naik, kamu bisa coba live selling dan berinteraksi langsung dengan audiens. Pendekatan soft selling ini terasa lebih efektif karena konten terlihat lebih natural dan mudah membangun kedekatan dengan audiens.

2. Gunakan Landing Page atau Website Sederhana

Selain social commerce, landing page atau website bisnis juga termasuk channel yang efektif mendatangkan pembeli. Untuk skala UMKM, kamu tidak harus langsung punya website besar dengan halaman yang kompleks. 

Cukup buat halaman produk sederhana yang informatif, menarik, dan mampu menjawab kebutuhan calon pembeli. Jadi, ketika calon pembeli masuk ke halaman website atau landing page kamu, mereka seakan sedang menelusuri katalog produk layaknya di marketplace

Cara ini tidak hanya bisa meningkatkan kepercayaan pembeli, tapi juga membantu mereka memahami detail produk hingga tertarik dan memutuskan untuk chat ke admin toko. 

3. Gunakan Iklan untuk Mendatangkan Traffic Sendiri

Kalau udah punya social commerce dan landing page atau website, kini saatnya maksimalkan strategi mendapatkan pembeli lewat iklan berbayar (ads). Cara ini membuat seller tak hanya mengandalkan traffic organik, tapi juga mulai membangun owned traffic.

Beberapa channel iklan yang paling sering dipakai seller saat ini yaitu Meta Ads untuk  Instagram dan Facebook, TikTok Ads, hingga Google Ads. Nantinya, traffic yang dihasilkan bisa diarahkan langsung ke WhatsApp sebagai channel penjualan yang profesional untuk mempermudah komunikasi dengan calon pembeli.

4. Arahkan Pembeli ke WhatsApp

Ketika calon pembeli berdatangan dari TikTok, Instagram, landing page, website bisnis, maupun hasil iklan berbayar, arahkan mereka untuk langsung chat ke WhatsApp Business agar proses komunikasi dan closing lebih mudah dilakukan.

Lewat WhatsApp, interaksi dengan calon pembeli terasa lebih personal karena mereka bisa tanya-tanya langsung terkait produk yang dibutuhkan. Saat mereka merasa yakin dan puas dengan respons seller, peluang closing hingga keberhasilan strategi repeat order lewat WhatsApp pun akan makin besar.

Selain itu, sebagai seller, kamu juga lebih mudah untuk followup terkait pesanan pembeli, mulai dari proses packing, konfirmasi kurir, pengiriman, status COD, hingga membantu menangani kendala yang terjadi selama proses pengiriman paket.

Tapi kalau semua proses di atas masih dilakukan pakai cara manual, tentu juga bisa memakan banyak waktu dan menganggu kualitas pelayanan customer. Nah, untuk membantu seller kelola leads dan customer WhatsApp dengan lebih rapi dan efisien, kamu bisa gunakan Everpro Chat, platform yang udah terintegrasi resmi dengan WA Business API.

5. Manfaatkan Database Pelanggan Lama

Selain mengupayakan cara-cara di atas, kamu juga bisa manfaatkan database pelanggan lama untuk meningkatkan iorder. Bahkan, customer lama sering kali menjadi sumber order yang paling potensial karena mereka udah kenal dan percaya dengan bisnismu.

Cobalah membuat segmentasi pelanggan untuk menandai customer loyal, lalu lakukan pendekatan yang lebih personal. Misalnya melalui broadcast promo, followup berkala, hingga strategi upselling dan cross selling sesuai riwayat pembelian mereka.

Kalau kamu belum punya database customer yang rapi, kamu bisa pelajari lebih lanjut lewat artikel Cara Segmentasi Pelanggan WA.

Tantangan Jualan Tanpa Marketplace

Meskipun jualan tanpa marketplace menjadi jalan keluar bagi sebagian seller karena melihat peluang yang besar, tapi tidak bisa dipungkiri, akan ada beberapa tantangan yang perlu dihadapi ketika memutuskan untuk jualan di channel mandiri. 

Mulai dari harus membangun traffic sendiri, perlu lebih rajin lagi untuk followup customer, mengurus operasional yang lebih kompleks dibandingkan saat di marketplace, hingga memastikan proses pengiriman berjalan lebih rapi dan terorganisir.

Belum lagi urusan database pelanggan, seller juga perlu menyiapkan sistem customer management yang rapi supaya data pembeli, pesanan, followup, hingga repeat order bisa dikelola dengan lebih optimal.

Namun, berbagai tantangan tersebut sebanding dengan keunggulan channel mandiri dibanding marketplace, terutama karena seller bisa punya kontrol bisnis yang lebih besar, membangun customer sendiri, dan menciptakan pertumbuhan yang lebih stabil untuk jangka panjang.

Kenapa Banyak Seller Kini Fokus ke Repeat Order?

Banyak seller kini mulai fokus meningkatkan repeat order karena biaya mencari pembeli baru semakin mahal, terutama lewat iklan dan persaingan digital. Di sisi lain, pembeli lama cenderung lebih mudah untuk diajak belanja ulang karena mereka udah kenal dan percaya dengan produk maupun layanan toko.

Karena itulah, banyak seller mulai menjalankan strategi repeat order lewat WhatsApp, seperti followup pelanggan, broadcast promo, reminder belanja ulang, hingga upselling produk yang relevan.

Repeat order juga sering dianggap lebih profitable dibanding terus-menerus mencari pembeli baru. Selain lebih menghemat biaya marketing, kamu juga bisa membangun customer sendiri yang nilainya jauh lebih valuable untuk pertumbuhan bisnis jangka panjang. 

Namun, untuk fokus ke repeat order, seller juga perlu punya WhatsApp sebagai channel penjualan yang profesional dan database customer yang dikelola dengan rapi. Tanpa aset penting ini, seller akan sulit terhubung langsung dengan pembeli, termasuk untuk followup dan promosi. 

Sistem Operasional Juga Harus Siap

Di samping mengupayakan cara dapat pembeli tanpa marketplace, seller juga harus siap dari sisi operasional bisnisnya. Percuma jika pembeli udah datang, tapi mereka tidak puas dengan pelayanan toko.

Mulai dari respons chat customer, bisa pesan dari berbagai channel mandiri, sistem COD, proses pengiriman paket, tracking paket, hingga pilihan ekspedisi yang beragam, semuanya harus maksimal agar pengalaman belanja pembeli tetap nyaman dan profesional.

Memang sistem operasional ini terasa cukup kompleks, apalagi jika seller masih di masa adaptasi dengan perubahan sistem dan pola jualan yang berbeda dibanding di marketplace

Namun, jangan khawatir, karena semuanya bisa lebih mudah diatasi lewat dua layanan dari Everpro. Untuk bantu kelola chat pelanggan agar lebih tertata, fast response, dan profesional, kamu bisa memanfaatkan Everpro Chat.

Sementara itu, untuk kelola proses pengiriman dan fulfillment bisnis multichannel dengan lebih praktis, kamu bisa gunakan Everpro Shipping yang mendukung berbagai pilihan ekspedisi, sistem COD, tracking paket, hingga pengelolaan order yang lebih terintegrasi.

Saatnya Maksimalkan Channel Jualan Mandiri Kamu

Dari panduan di atas, bisa disimpulkan bahwa pembeli tidak cuma ada di marketplace aja. Kamu bisa dapat pembeli di luar marketplace dengan membangun channel penjualan sendiri. 

Lakukanlah secara bertahap, mulai dari social commerce, website, hingga WhatsApp. Selain itu, ingat bahwa fokus utama dari strategi ini bukanlah untuk tinggalkan marketplace sepenuhnya, tetap untuk kurangi ketergantungan pada satu platform aja. 

Jadi, ketika ada perubahan kebijakan dari marketplace, bisnismu tetap bisa berjalan lebih stabil karena kamu udah punya channel penjualan sendiri yang lebih terkontrol. Seiring waktu, owned customer dan repeat order pun akan jadi aset jangka panjang yang sangat berharga untuk bantu pertumbuhan bisnismu secara berkelanjutan.

Untuk mewujudkan channel jualan mandiri yang lebih stabil dan terkontrol, seller juga perlu sistem customer dan operasional yang lebih matang. Karena itu, banyak bisnis kini mulai mengandalkan kombinasi layanan Everpro Chat dan Everpro Shipping.

Kedua layanan ini saling terintegrasi, sehingga proses closing, followup, hingga pengiriman tetap bisa berjalan rapi dan efisien, meskipun tanpa sistem seperti marketplace.

Jika kamu juga tertarik untuk menggunakan kombinasi layanan Everpro ini, kamu bisa berlangganan sekarang atau konsultasi gratis dengan tim Everpro!

Pelajari lebih lanjut cara membangun ekosistem jualan mandiri di Everpro dan mulailah Jualan Tanpa Marketplace hari ini!

Shipping
Share
Artikel Lainnya