Cara Pilih Ekspedisi untuk Website Sendiri, Strategi yang Tepat bagi Seller Pemula!

Pilih ekspedisi terpopuler saat baru migrasi ke toko website sendiri memang terlihat aman, tapi tidak selalu efisien. Sayangnya, banyak seller belum begitu paham cara pilih ekspedisi untuk website sendiri dan mengambil keputusan hanya dari kebiasaan, bukan data dan kebutuhan.

Prosesnya memang lebih cepat karena cuma ikut arus tanpa riset lebih jauh soal ekspedisi. Tapi, dampaknya terasa saat kendala mulai menumpuk, seperti margin tergerus, pembeli kecewa karena keterlambatan, dan cash flow tidak stabil akibat pencairan yang tidak konsisten.

Biasanya ini terlihat setelah 2–3 bulan, saat RTS (Return to Sender) tinggi terutama di Sumatera, pencairan COD terlambat, dan biaya operasional naik karena tidak sesuai rute dan segmentasi pembeli. Bahkan, ternyata ada opsi ekspedisi lain yang lebih murah dan stabil.

Pada akhirnya, seller sadar bahwa memilih ekspedisi bukan soal popularitas, melainkan kecocokan dengan pola pengiriman dan bisnis. Karena itu, artikel ini bahas framework pemilihan ekspedisi berbasis data, bukan sekadar nama yang familiar.

Apa Bedanya Memilih Ekspedisi di Website Sendiri vs Marketplace?

cara pilih ekspedisi untuk website sendiri
Sumber: freepik.com

Saat jualan tanpa marketplace atau di website sendiri, kamu punya kebebasan untuk memilih ekspedisi yang diinginkan. Sementara marketplace, pilihan ekspedisi sudah ditentukan oleh sistem sejak awal. Selain itu, ada beberapa perbedaan lainnya yang bisa kamu cek di tabel ini:

Aspek Marketplace Website Sendiri
Pilihan ekspedisi Terbatas dan sudah dikurasi platform Lebih bebas memilih ekspedisi
Penentuan harga ongkir Sudah ditentukan sistem Bisa dinegosiasikan / disesuaikan sendiri
Kontrol kualitas Ada standar dari platform, tapi bisa diganti dalam ekosistem yang sama Tidak ada jaminan dari platform, sepenuhnya tanggung jawab seller
Risiko jika ekspedisi bermasalah Dampak lebih terbatas karena sistem terintegrasi Langsung berdampak ke reputasi toko dan kepercayaan pembeli
Fleksibilitas strategi Terbatas Bisa optimasi per rute, produk, dan metode pembayaran (COD/non-COD)
Peluang optimasi Minim karena sistem seragam Tinggi, bisa disesuaikan per kebutuhan bisnis

Dari perbedaan di atas, kita bisa tahu bahwa marketplace menawarkan kemudahan dengan sistem yang terstandarisasi, sementara website sendiri memberi fleksibilitas lebih besar yang perlu diimbangi dengan strategi ekspedisi yang tepat.

5 Kriteria yang Harus Dievaluasi Sebelum Pilih Ekspedisi

Sebelum memilih ekspedisi untuk toko website sendiri, kamu perlu mengevaluasi lebih dari sekadar ongkir dan popularitas. Setiap layanan punya performa dan kecocokan yang berbeda tergantung karakter bisnis serta pola pengiriman. 

Karena itu, berikut 5 kriteria penting yang perlu diperhatikan sebelum memilih ekspedisi:

Kriteria 1: Coverage Area

Mencari tahu wilayah cakupan atau area jangkauannya jadi hal yang paling fundamental dalam memilih ekspedisi. Sekalipun ekspedisi yang kamu pilih sangat populer, tidak akan begitu berguna kalau tidak menjangkau pengiriman terbanyak dari alamat pembeli kamu. 

Ada penawaran khusus dari kami buat kamu!

Promo Diskon

Kamu perlu lakukan evaluasi dengan cara berikut:

  • Lihatlah 20 area tujuan pengiriman terbanyak dari riwayat pesanan lama kamu di marketplace.
  • Periksa apakah ekspedisi yang dipilih mampu mengcover seluruh area tersebut. 
  • Perhatikan juga performa coverage tiap wilayah, karena ada ekspedisi yang kuat di area Jawa tetapi kurang optimal untuk pengiriman luar Jawa, atau sebaliknya.

Kriteria 2: RTS Rate (Return to Sender Rate)

RTS adalah persentase paket yang kembali ke seller karena gagal terkirim. Metrik ini sangat penting karena setiap paket RTS berarti seller sudah mengeluarkan biaya kirim, tapi produknya belum berhasil terjual.

Untuk mendapatkan data RTS ini, kamu bisa lakukan tiga opsi: 

  • Tanya langsung ke ekspedisi: Minta data atau estimasi tingkat RTS berdasarkan area pengiriman tertentu, terutama untuk wilayah dengan volume order tinggi seperti luar Jawa atau daerah terpencil.
  • Lihat ulasan seller lain di komunitas dan forum: Cari pengalaman seller lain terkait tingkat RTS, keterlambatan pengiriman, hingga kualitas handling paket untuk mengetahui performa ekspedisi di lapangan.
  • Menggunakan aggregator logistik seperti Everpro Shipping: Di platform ini kamu bisa memilih ekspedisi dengan RTS paling rendah di tiap area berdasarkan data pengiriman sebelumnya, jadi keputusan yang diambil tidak cuma berdasarkan perkiraan.

Kriteria 3: Kecepatan Pencairan COD

Kalau bisnis kamu pakai COD, kriteria ketiga ini penting banget karena sangat berpengaruh langsung ke cash flow. Apalagi, standar pencairan COD setiap ekspedisi sangat bervariasi. Ada yang 1-2 hari kerja setelah paket diterima pembeli, juga ada yang memakan waktu 7-14 hari.

Bagi seller yang modalnya terbatas, perbedaan ini tentu bisa sangat signifikan. Karena itu, hindari hanya cari tahu lewat brosur. Pastikan kamu bertanya dan konfirmasi langsung ke ekspedisi maupun seller lain terkait jadwal pencarian yang aktual. 

Kriteria 4: Harga Ongkir vs Kualitas Layanan

Jangan hanya berpatokan pada harga ongkir termurah, karena ekspedisi paling murah belum tentu paling hemat. Kalau RTS-nya tinggi, dalam jangka panjang seller tetap bisa rugi karena setiap paket retur membuat biaya kirim jadi terbuang. 

Untuk mempertimbangkan kriteria ini, coba hitung total cost of ownership, yaitu total biaya keseluruhan yang benar-benar kamu keluarkan selama proses pengiriman. Ini rumusnya: 

Cost of ownership = (harga ongkir × volume) + (RTS rate × biaya retur × volume) 

Kalau udah dapat hasilnya, kamu bisa pakai untuk jadi bahan perbandingan yang adil.

Kriteria 5: Kemudahan Proses Klaim

Kriteria kelima ini paling sering terabaikan oleh kebanyakan seller. Mereka akan menyadarinya sampai benar-benar butuh klaim paket, baik itu rusak, hilang, dan risiko lainnya. 

Karena itu, lakukan evaluasi sebelum memilih lewat pertimbangan berikut ini: 

  • Berapa lama proses klaim ganti rugi biasanya selesai? 
  • Apa saja dokumen yang harus seller persiapkan untuk klaim ganti rugi ke ekspedisi?
  • Seberapa responsif CS ekspedisi saat ada masalah terkait kondisi paket selama pengiriman? 

Untuk tahu jawabannya, kamu bisa bertanya ke komunitas seller yang berjualan di channel mandiri juga. Biasanya, pengalaman nyata seller akan jauh lebih reliable dari pada informasi resmi di website ekspedisi.

Evaluasi Tambahan untuk Seller yang Pakai COD

COD (Cash on Delivery) membuat proses memilih ekspedisi jadi lebih kompleks. Soalnya, tidak semua ekspedisi yang bagus untuk pengiriman reguler juga punya performa baik untuk COD.

Ada beberapa faktor tambahan yang perlu kamu evaluasi, yaitu:

1. Ketersediaan COD Per Area

Beberapa ekspedisi tidak melayani COD di semua area jangkauan mereka, karena itu sebelum memutuskan untuk pilih ekspedisi tersebut, pastikan COD ini tersedia di area pengirim terbanyak bisnismu. 

2. Batas Nominal COD

Ada ekspedisi yang membatasi nominal maksimal COD per paket, jadi tidak semua pesanan dengan nilai besar bisa dikirim menggunakan layanan COD tersebut. Coba cek batas maksimalnya jika produkmu punya AOV (Average Order Value) yang tinggi. 

3. Mekanisme Penolakan Paket

Dari beberapa pilihan calon ekspedisi yang ingin kamu gunakan, coba tanya bagaimana prosedur mereka jika ada pembeli yang menolak menerima paket COD. Mulai dari berapa lama paket disimpan sebelum dikembalikan, hingga berapa biaya yang ditanggung oleh seller. 

4. Konsistensi Pencairan di Peak Season

Peak season adalah periode saat volume pengiriman sedang tinggi, seperti Lebaran atau Harbolnas. Pada momen ini, ekspedisi yang biasanya cepat dalam pencairan dana bisa jadi lebih lambat karena lonjakan pengiriman.

Faktor ini memang sering diabaikan, padahal keterlambatan pencairan bisa berdampak langsung ke cash flow bisnis kamu. Karena itu, jangan lupa cari tahu dulu, ya!

Cara Test Ekspedisi Sebelum Fully Commit

Jangan langsung commit ke satu ekspedisi hanya berdasarkan hasil riset. Kamu juga perlu melakukan testing menggunakan data nyata dari bisnismu sendiri. Coba ikuti panduan tes yang konkret berikut:

  1. Mulailah dengan mencoba sekitar 15–20 pengiriman per ekspedisi untuk rute yang sama selama kurang lebih 2 minggu.
  2. Lalu, track beberapa metrik penting seperti delivery rate (paket berhasil terkirim), RTS rate, waktu pengiriman aktual dibanding estimasi, dan waktu pencairan dana COD.
  3. Bandingkan performa tiap ekspedisi dengan framework yang sama. Dari sini, kamu bisa menentukan ekspedisi utama dan cadangan untuk area tertentu.

Perlu diingat, hasil testing bisa berbeda di setiap wilayah. Ekspedisi yang bagus untuk pengiriman ke Jawa belum tentu optimal untuk Sulawesi atau area lainnya, jadi lakukan evaluasi per area, bukan secara keseluruhan.

Kapan Harus Pakai Lebih dari Satu Ekspedisi?

Sebagian besar seller biasanya lebih cocok pakai lebih dari satu ekspedisi. Tapi, strategi ini baru bisa efektif jika bisnismu sudah cukup kompleks untuk dikelola dengan multi-ekspedisi. 

Mulailah pertimbangkan untuk multi-ekspedisi ketika kamu berada di kondisi: area pengirimanmu sudah tersebar ke luar pulau Jawa, volume pengiriman sudah di atas 30 order per hari, atau pola RTS yang tinggi sudah mulai terlihat di area tertentu. 

Kamu juga bisa membagi ekspedisi berdasarkan area dan kebutuhan pengiriman. Misalnya:

  • Ekspedisi A untuk Jawa dan Bali karena ongkirnya lebih kompetitif.
  • Ekspedisi B untuk Sumatera dan Kalimantan karena coverage-nya lebih kuat.
  • Ekspedisi C sebagai backup atau untuk pengiriman barang berat.

Meski mengelola multi-ekspedisi akan terasa lebih kompleks di awal, namun prosesnya jadi jauh lebih praktis kalau kamu menggunakan aggregator logistik seperti Everpro Shipping. Platform ini menghubungkan 20+ ekspedisi hanya dalam satu dashboard saja. 

Selain itu, Everpro Shipping juga punya fitur Smart Courier yang dapat merekomendasikan ekspedisi terbaik secara otomatis berdasarkan area pengiriman.

Tanda Seller Harus Mulai Ganti Ekspedisi

“Kapan saya harus berhenti pakai ekspedisi ini?” Pertanyaan ini memang terlihat sepele, tapi nyatanya tidak sedikit seller yang akhirnya berada di titik mulai mempertanyakan kualitas layanan ekspedisi yang dipakai.

Jawabannya, kamu perlu mulai evaluasi ulang jika muncul beberapa red flag berikut:

  • RTS naik di atas 15% di area tertentu dalam satu bulan.
  • Pencairan COD terus terlambat lebih dari 3 hari dari jadwal yang dijanjikan.
  • Muncul 3 atau lebih komplain dalam seminggu dari pembeli soal paket terlambat atau rusak.
  • Customer service ekspedisi sulit dihubungi atau lambat merespons saat ada kendala.

Setelah memahami penjelasan di atas, saatnya pilih ekspedisi yang tepat untuk bisnismu. Yuk, gunakan Everpro Shipping untuk bantu optimalkan pengiriman tokomu!

Shipping
Picture of Sania Majida
Sania Majida
Sania is an SEO Content Writer with experience in technology, retail, and finance. She helps businesses grow sales and build brand awareness through web builder platforms with clear, strategic, audience-focused content.
Share:
\"Everpro\"

Yuk, Dapatkan Promo dan Penawaran Istimewa dari Berbagai Layanan Everpro untuk Tingkatkan Bisnismu! 

Artikel Lainnya