...

5 Cara Kurangi Gagal Bayar COD saat Jualan Mandiri, Wajib Tahu!

Naiknya biaya platform di marketplace membuat banyak seller migrasi ke channel jualan mandiri. Namun dibalik peluang yang ada, risiko retur akibat COD yang tidak dibayar pembeli masih sering jadi kekhawatiran seller untuk mulai migrasi. Ini terjadi karena seller belum tahu cara kurangi gagal bayar COD dengan sistem yang tepat.

Seller pun jadi serba bingung. Jika COD dihilangkan, potensi penjualan bisa menurun karena metode ini masih jadi favorit buyer di Indonesia. Tapi jika tetap dipakai, banyak seller belum tahu cara yang tepat untuk mengantisipasi risiko gagal bayar dan retur.

Padahal, masalah utamanya sering kali bukan ada di sistem COD itu sendiri, tapi di alur operasional yang belum rapi. Melalui validasi customer dan workflow pengiriman yang tepat, seller mandiri tetap bisa menjalankan COD lebih aman sekaligus mengurangi risiko gagal bayar.

Kenapa Gagal Bayar COD Sering Terjadi?

cara kurangi gagal bayar COD
Sumber: freepik.com

Gagal bayar COD (Cash on Delivery) sering terjadi karena beberapa faktor, seperti alamat pembeli kurang lengkap, kontak pembeli yang sulit dihubungi, pesanan belum divalidasi pembeli dengan baik, target iklan kurang sesuai, hingga follow-up belum optimal. 

Mari pahami lebih dalam soal penyebab-penyebab umum gagal bayar COD di atas:

1. Data Pembeli Tidak Lengkap

Data pembeli yang krusial untuk kirim paket mencakup nama lengkap, nomor telepon yang aktif, dan alamat lengkap, termasuk nomor rumah, patokannya, dan RT/RW. Ketika satu atau lebih dari data tersebut tidak lengkap, maka kurir akan sulit menemukan lokasi pembeli. 

Akibatnya, paket gagal dikirim dan tertahan di ekspedisi. Jika kendalanya melewati batas waktu retur, maka transaksi otomatis dibatalkan sistem dan penjual perlu membayar ongkir retur

2. Kontak Pembeli Sulit Dihubungi

Kontak pembeli sudah tercantum di resi, tapi saat kurir hendak mengantarkan paket, nomor tersebut sulit dihubungi. Hal ini bisa membuat kurir kesulitan menemukan alamat penerima.

Bahkan saat alamatnya berhasil ditemukan, kadang pembeli sedang tidak ada di lokasi dan tidak menitipkan pembayaran COD kepada orang rumah. Akibatnya, transaksi COD tidak bisa dilakukan sehingga paket harus dibawa kembali ke gudang ekspedisi.

Ada penawaran khusus dari kami buat kamu!

Promo Diskon

3. Pesanan Belum Divalidasi Pembeli dengan Baik

Tidak bisa dipungkiri, dalam jualan online memang ada pembeli yang asal checkout tanpa benar-benar yakin untuk membeli. Baik itu terlalu cepat membuat pesanan atau pembeli berubah pikiran saat barang sudah dalam perjalanan. 

Seller juga terkadang lupa untuk konfirmasi ulang pesanan sebelum paket dikirim. Akibatnya, saat kurir datang mengantarkan paket, pembeli menolak pesanan, sulit dihubungi, atau merasa tidak jadi membeli dan menolak bayar COD. 

4. Target Iklan yang Kurang Sesuai

Meski kelihatannya tidak berhubungan langsung, gagal COD juga bisa dipengaruhi oleh lead iklan yang kurang tertarget. Maksudnya, iklan yang seller jalankan belum menjangkau calon pembeli yang benar-benar potensial atau punya niat beli yang tinggi.

Akibatnya, pesanan yang masuk bisa berasal dari pembeli yang cuma penasaran, impulsif saat checkout, kurang paham produknya, atau belum siap untuk pembayaran COD. 

Hal seperti ini bisa berujung pada pesanan yang dibatalkan saat paket di perjalanan atau pembeli menolak menerima paket dan membayar COD saat kurir sudah sampai di lokasi. Alhasil, paket dikembalikan ke gudang ekspedisi untuk diproses retur ke seller

5. Proses Follow Up yang Lambat

Followup ke pembeli setelah checkout juga punya semacam golden time. Kalau terlalu lama, pembeli bisa lupa pernah checkout, berubah pikiran, membeli produk serupa di tempat lain, atau jadi tidak siap menerima untuk bayar COD saat dikirim.

Contohnya, pembeli checkout hari ini, tapi seller baru menghubungi atau memproses pesanan beberapa hari kemudian. Akibatnya, risiko order ditolak atau COD gagal jadi lebih besar.

Penyebab umum di atas menunjukkan bahwa kegagalan pembayaran COD bukan cuma terjadi karena seller kurang cermat, tapi juga dipengaruhi oleh berbagai faktor eksternal.

Risiko COD saat Jualan Mandiri

Saat jualan mandiri (non-marketplace), metode pembayaran COD bisa menyebabkan retur meningkat, ongkir boncos, cash flow terganggu, stok produk atau bahan baku tertahan, hingga biaya operasional membengkak.

Bahkan dalam banyak kasus, risiko-risiko tersebut bisa terjadi secara bersamaan. Mari pahami lewat alur risiko berikut ini: 

1. Retur Meningkat dan Ongkir Boncos

Saat paket COD gagal dibayarkan pembeli, produk dikembalikan ke seller dan masuk ke proses retur. Kondisi ini membuat angka RTS (Return to Sender) naik, sementara seller juga harus bayar ongkir pengiriman awal dan ongkir retur yang berakibat pengeluaran jadi semakin besar. 

2. Cash Flow Bisnis Terganggu

Di sisi lain, dana dari penjualan tersebut juga belum bisa masuk karena transaksi COD tidak berhasil diselesaikan. Akibatnya, cash flow bisnis ikut terganggu, terutama jika jumlah order yang gagal cukup banyak di waktu yang bersamaan. 

3. Stok Produk Tertahan dan Operasional Membengkak

Produk yang tertahan selama proses retur juga tidak bisa langsung diputar kembali untuk dijual. Bahkan pada beberapa jenis bisnis, stok bahan baku ikut tertahan karena alur produksi jadi terganggu. Jika terus terjadi, kondisi ini bisa membuat biaya operasional membengkak dan keuntungan bisnis perlahan berkurang.

Kondisi COD saat jualan mandiri, termasuk risiko-risikonya, tentu berbeda dengan marketplace yang umumnya sudah punya sistem bawaan. Mulai dari validasi pesanan, kelola pengiriman, hingga monitoring pesan, semuanya harus disiapkan sendiri oleh seller mandiri. 

Karena itulah, jika seller yang jualan mandiri tidak punya sistem dan workflow yang rapi seperti yang ada di marketplace, maka risiko gagal COD biasanya akan mudah terjadi. 

Cara Kurangi Gagal Bayar COD saat Jualan Mandiri

Mengurangi gagal bayar COD saat jualan mandiri bisa dilakukan dengan memvalidasi pesanan pembeli sebelum dikirim, menggunakan WhatsApp untuk followup ke pembeli, memastikan target iklan sudah tepat, memilih kurir yang sudah handal menangani COD, dan menyimpan data pembeli yang bermasalah. 

1. Validasi Order Sebelum Dikirim

Sebelum memproses order yang masuk, lakukan validasi pesanan terlebih dahulu ke pembeli. Mulai dari memastikan alamat penerima, tanyakan detail lokasi seperti nomor rumah hingga patokan sekitar jika alamat terlihat sulit ditemukan. 

Pastikan juga nomor telepon pembeli aktif dan cek lagi produk maupun varian yang dipesan, apakah sudah sesuai, tidak ada perubahan, serta stoknya memang masih tersedia di toko. Nah, untuk validasi seperti ini, seller biasanya butuh WhatsApp sebagai media followup ke pembeli.

2. Gunakan WhatsApp untuk Follow-Up Customer

WhatsApp menjadi channel paling bermanfaat bagi seller yang jualan tanpa marketplace. Lewat WhatsApp, seller bisa followup dan membangun komunikasi intens dengan pembeli, mulai dari menginformasikan soal pengiriman hingga estimasi paket sampai ke lokasi tujuan.

Termasuk juga untuk mengonfirmasi kesiapan pembeli dalam menerima paket, sehingga proses COD bisa berjalan lebih lancar. Namun, bukan dengan WhatsApp biasa, seller perlu memakai WhatsApp Business agar followup pembeli bisa lebih rapi dan terstruktur. 

Salah satu solusinya bisa lewat Everpro Chat, platform yang terintegrasi langsung dengan API resmi Meta untuk bantu seller mengelola chat pelanggan agar lebih optimal lewat fitur distribusi chat, quickreply, hingga automation follow-up.

3. Hindari Lead Iklan yang Tidak Tertarget

Antisipasi gagal bayar COD sebenarnya udah bisa dimulai sejak seller pasang iklan. Karena kualitas lead yang masuk sangat memengaruhi kualitas order yang diterima. Semakin trafficnya asal-asalan, makin besar peluang COD yang gagal. 

Pertama, seller harus targetkan iklan kepada audiens yang tepat, yaitu mereka yang benar-benar tertarik dan udah siap melakukan transaksi. Jadi, proses COD bisa berjalan lancar karena mereka sudah siap untuk menerima dan membayar paketnya. 

Kedua, landing page bisnis juga harus jelas dan informatif agar saat audiens tertarik membeli, proses transaksi bisa berjalan lebih lancar. Ini juga jadi salah satu cara agar RTS bisa rendah.  

4. Pilih Kurir dan Sistem COD yang Tepat

Memilih kurir juga tidak bisa asal-asalan. Kurir dengan sistem COD  yang tepat bisa bantu meminimalkan risiko gagal bayar COD, karena proses pengiriman, penerimaan, hingga pencairan dana berjalan lebih terpantau dan terstruktur. 

Biasanya, ekspedisi mereka sudah punya sistem tracking yang lebih akurat, estimasi pengiriman yang  jelas, pencairan COD tepat waktu, serta monitoring retur yang lebih terkontrol. Seller bisa pelajari lebih lanjut di Cara Pilih Ekspedisi untuk Website Sendiri

Nah, untuk memudahkan seller mengelola semua proses di atas di satu alur yang lebih rapi, seller juga bisa manfaatkan solusi seperti Everpro Shipping. Platform aggregator logistik ini akan bantu mengatur pengiriman COD, multi ekspedisi, tracking, hingga monitoring dalam satu dashboard terintegrasi. 

5. Simpan Data Customer Bermasalah

Saat jualan online, ada kalanya seller akan bertemu dengan pembeli yang kurang kooperatif. Contohnya, pembeli yang suka cancel order dadakan, sulit dihubungi saat COD, memberikan data yang kurang lengkap, atau yang tidak siap terima paket COD saat kurir sudah di lokasi.

Untuk menghindari terjadinya gagal bayar COD berulang dari pembeli yang sama, seller bisa membuat data pelanggan bermasalah sebagai referensi untuk kedepannya. 

Caranya dengan cek riwayat pesanan, identifikasi pembeli dengan pola order yang tidak valid atau sering gagal, lalu tandai atau blacklist agar bisa lebih mudah disaring pada transaksi berikutnya.

Apakah COD Masih Worth It untuk Seller Mandiri?

Ya, COD masih sangat worth it untuk seller mandiri yang jualan tanpa marketplace. Melansir Katadata, berdasarkan survei Badan Pusat Statistik (BPS), pembayaran COD (Cash on Delivery) masih menjadi metode pembayaran favorit online buyer di Indonesia. 

Sistem COD bisa menjangkau mereka yang belum punya rekening bank atau e-wallet. Selain itu, sebagian pembeli juga merasa lebih aman dari risiko penipuan karena mereka bisa memastikan kondisi barang secara langsung sebelum membayar. 

Bagi seller mandiri, sistem COD ini juga bisa jadi strategi yang sangat menguntungkan jika dikelola dengan tepat. Selain bantu meningkatkan rasa percaya pembeli, COD juga cenderung punya tingkat konversi yang lebih tinggi karena proses transaksi terasa lebih praktis. 

Karena itu juga sistem COD ini sangat cocok dipakai untuk social commerce dan WhatsApp selling, karena keputusan pembelian hingga closing terjadi dengan cepat lewat komunikasi langsung yang lebih intens. 

Namun, tidak seperti marketplace yang sudah punya sistem COD yang terintegrasi, seller mandiri perlu membangun dan mengelola sistem operasionalnya sendiri agar proses COD tetap berjalan lancar. Maka dari itu, penggunaan Everpro Shipping bisa mempermudah pengelolaan COD bagi seller mandiri.

Saatnya Kurangi Gagal Bayar COD dengan Sistem yang Tepat

Setelah memahami penyebab gagalnya pembayaran COD serta berbagai risikonya, bisa disimpulkan bahwa penyebab tingginya angka RTS tidak selalu karena metode COD itu sendiri, melainkan sering kali berasal dari sistem operasional seller mandiri yang belum optimal.

Bagi seller mandiri, COD yang aman bisa dicapai dengan workflow customer dan pengiriman yang terintegrasi, jadi semua proses dari validasi hingga pengantaran berjalan lebih terkontrol.

Untuk bisa sampai ke titik itu, seller biasanya perlu dukungan sistem yang lebih terpusat, terutama untuk kelola chat pembeli dan memproses pengiriman. Karena itu, banyak bisnis yang mulai menggunakan kombinasi seperti Everpro Chat dan Everpro Shipping

Melalui dua layanan ini, pengelolaan order COD jadi lebih terkendali dan minim risiko gagal. Seller juga akan sangat terbantu melewati masa adaptasi dari marketplace ke channel mandiri tanpa mengganggu stabilitas operasional dan pertumbuhan bisnis yang sedang dibangun.

Nah, kalau saat ini kamu ada di kondisi yang sama, yuk mulai kelola bisnis dengan lebih rapi bersama Everpro. Kamu juga bisa konsultasi gratis dengan tim Everpro atau langsung berlangganan untuk mulai menikmati semua fiturnya!

Shipping
Picture of Sania Majida
Sania Majida
Sania is an SEO Content Writer with experience in technology, retail, and finance. She helps businesses grow sales and build brand awareness through web builder platforms with clear, strategic, audience-focused content.
Share:
\"Everpro\"

Yuk, Dapatkan Promo dan Penawaran Istimewa dari Berbagai Layanan Everpro untuk Tingkatkan Bisnismu! 

Artikel Lainnya